Meninjau Ulang Proyek Infrastruktur dalam Rangka Efisiensi Anggaran

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa kenaikan impor yang terjadi sepanjang semester I 2018 berdampak terhadap neraca perdagangan. Komponen yang tertinggi yaitu bahan baku untuk infrastruktur, seperti besi baja, mesin serta alat listrik.

Pemerintahpun akhirnya meninjau ulang sejumlah proyek infrastruktur, khususnya yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Namun bukan berarti proyek infrastruktur itu berhenti begitu saja.

Meninjau Ulang proyek Infrastruktur

Dalam diskusi media Forum Merdeka Barat 9 kali ini, menghadirkan narasumber Ir. Widiarto selaku Inspektur Jenderal Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Luky Al Firman selaku Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Resiko Kementrian Keuangan dan Djoko Sasono selaku Sekretaris Jenderal Kementrian Perhubungan. Acara diskusi yang di gelar pada Jumat (10/8) ini, disambut ibu Niken selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementrian Komunikasi dan Informasi selaku tuan rumah.

Meninjau Ulang proyek Infrastruktur
Narasumber diskusi media FMB9

Seperti disampaikan bapak Djoko Sasono, bahwa capaian-capaian nasional mengenai infrastruktur banyak mengalami peningkatan juga kendala. Namun pemerintah berusaha mengatasi terutama di bidang permodalan. Seperti yang kita ketahui, negara kita terdiri dari banyak pulau yang harus terkoneksi satru dengan lainnya.

Semua itu membutuhkan infrastruktur yang kuat yang dapat saling menghubungkan tapi juga tentu saja terjamin keselamatannya.

Meninjau Ulang proyek Infrastruktur
Meninjau Ulang proyek Infrastruktur

Kebutuhan anggaran infrastruktur yang ada yaitu Rp370 trilyun, sedang yang ada sampai 2019 baru tercapai Rp250 trilyun ini. Oleh sebab itu dibutuhkan pemangkasan dana disana-sini terutama yang banyak membutuhkan bahan baku impor.

Agar tidak membebani, salah satunya dengan melakukan shifting, yaitu dari belanja barang menjadi belanja modal. Hal tersebut untuk mendukung kinerja BUMN. Seperti yang dikatakan SekJen Kemenhub bahwa kita mendorong industri dalam negeri terus menjadi potensi utama dalam pembangunan.

Kerjasama dengan BUMN inilah yang terus dilakukan melalui skema Kerja sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU). Seperti yang dijelaskan Luky Al Firman, bahwa dengan mengembangkan skema KPBU ini pembiayaan infrastruktur tidak lagi tergantung APBN karena ada pihak swasta yang dilibatkan.

Menurut Luky saat ini pemerintah mengembangkan KPBU-AP yaitu skema baru dengan Availability Payment (AP). “Contohnya kita membangun jalan sebesar 100 triliun rupiah, lalu ada biaya pemeliharaannya, maka dengan skema KPBU-AP akan lebih efisien. Karena kita tak membayar di awal, kita hanya membayar cicilan pembiayaan ketika proyek sudah berjalan. Jadi risiko dipindahkan ke kontraktor, kita bayar ketika jalannya sudah digunakan,” tambah Luky.

Meninjau Ulang proyek Infrastruktur
Meninjau Ulang proyek Infrastruktur

Sebisa mungkin pemerintah melakukan penambahan ekspor dan pengurangan impor agar proyek infrastruktur tetap dapat berjalan. Anggaran yang ada dimaksimalkan dengan melakukan serangkaian evaluasi.

Walaupun ada beberapa bahan seperti listrik yang tidak mungkin dikurangi. Oleh sebab itu investor diperlukan agar dapat menanamkan modalnya untuk keperluan infrastruktur kita. Salah satu caranya dengan memberikan jaminan agar investor tidak takut berinvest di negara kita.

Sampai hari ini, menurut Widiarto tidak ada satupun istruksi yang menyebutkan proyek infrastruktur yang diberhentikan. Dikarenakan bahan/kandungan lokal yang ada di proyek infrastruktur sebesar 99%.

Hal tersebut menandakan bahwa pemerintah mulai bisa mengurangi sedikit demi sedikit belanja barang yang akhirnya menekan impor bahan untuk proyek infrastruktur.

Infrastruktur menjadi tumpuan pembangunan dalam 5 tahun pemerintahan Jokowi ini. Oleh sebab itu Kementrian PUPR termasuk kementrian yang memiliki anggran terbesar.

Hal itu dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan juga terciptanya lapangan kerja. Walaupun demikian, Widiarto menegaskan bahwa Kementrian PUPR tetap akan melakukan efisiensi anggaran.

Di Kementerian PUPR, Widiarto menjelaskan, ada tiga jenis belanja anggaran. Yaitu belanja barang operasional, belanja nonoperasional, yaitu berupa studi, kajian, workshop yang setahunnya dapat dikurangi hingga 15% dan belanja yang berkarakter modal, yaitu infrastruktur yang diserahkan ke warga seperti rumah swadaya.

“Dalam rangka efiesiensi belanja anggaran, PUPR menghemat belanja barang dan melakukan shifting ke belanja modal atau ke belanja yang lebih produktif. Namun tidak ada instruksi untuk menunda, infrastruktur jalan terus, tidak ada yang direm,”

Oleh sebab itu prosentasi belanja modal di Kementrian PUPR pada 2019 berusaha mengalihkan belanja nonoperasional ke belanja yang lebih produktif seperti ke belanja modal atau yang berkarakter modal.

Pada proyek infrastruktur ini Kementrian PUPR, bahan baku yang tidak mungkin tidak diimpor yaitu baja. Namun demikian, penggunaannya tidaklah begitu banyak, hanya di profil baja khusus saja. Jadi untuk penggunaan yang lainnya sudah menggunakan bahan lokal, seperti semen dan beton pracetak.

Meninjau Ulang proyek Infrastruktur

Dengan penggunaan bahan lokal, diharapkan dapat memacu BUMN dalam tender yang disertakan. Bukan itu saja, Kementrian PUPR bahkan memberikan reward bagi para peserta tender dengan kandungan lokal tertentu.

Semoga dengan penggunaan kandungan lokal ini, proyek infrastruktur kita dapat tetap berjalan tanpa bergantung pada bahan baku impor.

 

Jakarta, 13 Agustus 2018

HQ

 

23 Replies to “Meninjau Ulang Proyek Infrastruktur dalam Rangka Efisiensi Anggaran”

  1. Kemajuan terlihat dengan adanya infrastructur yang memadai apalagi dengan memanfaatkan SDA lokal dengan demikian uang negara dapat dimanfaatkan untuk yang lain.

  2. Indonesia semakin maju dan terus berkembang ya mba dengan banyak nya pembangunan di Ibukota maupun daerah pelosok. Sudah mulai banyak sarana prasarana yang terpenuhi di beberapa daerah

  3. Memang pas masa pemerintahan pak jokowi ini insfstruktur jadi salah satu yang utama untuk di perhatikan ya mba. Salah satu terlihat dari artikel di atas yang membhas insfrasrukur. Smga insfrakarutur indonesia mkin bgus dan ga cepat rusak juga oleh kita penggunanya

  4. Materi oembahasan yang bagus. Infrastuktur yang baik didukung oleh prilaku masyarakat yang baik pula. Menjaga keutuhan infrastruktur dengan maintenance budget dan alokasi yang tepat sasaran perdayaannya.

  5. Infrastruktur indonesia memang lagi berkembang pesat so qta sebagai masyarakat pun harus lebih banyak info tentang hal seperti ini yaa

  6. memang sekarang sedang melakukan pengalihan penggunaan bahan import dengan bahan2 lokal. Kita semua kudu dukung ya,,,, makasih ya mbak ilmu nya,,, jd nambah pengetahuan jg

  7. Efesiensi anggaran dengan mengunakan bahan baku lokal tifak hanya menciptakan tander baru di lokal yang menciptakan peluang kerja akan tetapi juga menciptakan kepercayaan masyarakat bahwa produk lokal memang berkualitas dan layak di pergunakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *