Jati Diri Bahari Indonesia dalam Pernaskahan Nusantara dari Masa ke Masa

“Mua diang Bura diseddena lopimmu
Da’ mupettule, salili U mutuu
Kalau ada buih mendekat ke perahumu
Jangan kau bertanya kerena itulah rinduku”

Indonesia sebagai negara kepulauan dikelilingi oleh lautan dan samudra. Nenek moyang kita dari berbagai suku bangsa bahkan dikenal sebagai pelaut yang gagah berani. Cerita-cerita tentang kehebatan pelaut-pelaut kita banyak dikisahkan baik berupa naskah tulisan, lukisan maupun lisan (oral history) seperti puisi dan lagu.

Namun begitu tidak banyak suku bangsa di Indonesia yang memiliki tulisan dan tradisi tulis. Padahal tradisi tulis sangat penting keberadaannya sebagai sarana pengabadian buah pikiran, perasaan dan citra masa lampau dari suatu suku bangsa.

Suku-suku bangsa di Indonesia yang beruntung memiliki tradisi tulis adalah suku Bugis, Makassar di Sulawesi Selatan dan suku Mandar di Sulawesi Barat. Naskah-naskah atau lontara inilah yang menjadi warisan penting bagi generasi penerus bangsa.

Dalam Seminar Internasional Pernaskahan Nusantara di event tahunan Festival  Naskah Nusantara IV, Kamis (20/9) di Auditorium Soekarman, Perpustakaan Nasional RI, Dr. Mukhlis PaEni, M.Pd memaparkan buah pikirannya.

Dr. Mukhlis PaEni, M.Pd, Sejarawan yang juga Antropolog

Dr. Mukhlis PaEni, M.Pd adalah seorang dosen di Fakultas Pasca Sarjana Program Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (sejak 1999-sekarang), yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Sensor Film Indonesia di tahun 2009-2012.

Jati diri bahari Indonesia dalam pernaskahan nusantara
Dr. Mukhlis PaEni, M.Pd (Doc: LontaraProject.com)

Sebagai seorang kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan tanggal 7 Mei 1948 ini, beliau mengenal betul sejarah pernaskahan Sulawesi dan Indonesia pada umumnya. Beliau menyelesaikan sarjana sejarah di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1975. Wah… tahun itu saya baru balita tapi beliau sudah menyelesaikan sarjananya. Terus terang saya ikut merasa bangga sebagai sesama alumnus Fakultas Sastra dan Budaya, UGM, walau beda jauh angkatannya hehehe.

Bukan itu saja beliau juga mendapatkan gelar Doktor dalam bidang Antropologi Sosial melalui kerjasama University of Oslo, Norwegia dan Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang pada tahun 1983.

Menurut beliau tradisi tulis bagi suku bangsa di Sulawesi ini tidak dapat diketahui secara pasti mulai kapan adanya. Namun sebelum Islam masuk beberapa ahli berpendapat tradisi tulis ini sudah ada.

Kepemilikan naskah dari abad ke abad

Pada abad 15-17 naskah-naskah (lontara) yang ada berada di bawah kepemilikan istana kerajaan. Keberadaan lontara ini menjadi benda pustaka kerajaan karena memang hanya ditemukan di istana dan dimiliki oleh para bangsawan tinggi di pusat-pusat kerajaan.

Jati diri bahari Indonesia dalam pernaskahan nusantara

Dalam pengabadian lontara ini, pihak istana memiliki petugas khusus sebagai juru tulis yang secara resmi menulis dan mencatat berbagai kejadian dan peristiwa penting berbagai pengetahuan dan masalah sosial kemasyarakatan.

Karya-karya naskah yang dituliskan antara lain berupa catatan harian raja-raja, silsilah, ramalan-ramalan, petunjuk bercocok tanam, tata niaga, undang-undang pelayaran, ilmu persenjataan, taktik perang, persenjataan, dan masih banyak lagi.

Di abad 17-18 mulai terjadi runtuhnya tradisi besar. Munculnya kekuasaan-kekuasaan asing menjadi semacam degradasi kepemilikan tradisi besar. Naskah-naskah yang awalnya tersimpan rapi di istana dan hanya dimiliki oleh pihak istana dan intelektual kerajaan mulai tergantikan kepemilikannya seiring masuknya dominasi kekuasaan asing dan runtuhnya kekuasaan kerajaan.

Dan memasuki abad 19-20 sejak terjadinya ekspedisi penaklukan oleh kolonial Belanda terhadap kekuasaan tradisional dari kerajaan, maka mulai porak porandalah pusat-pusat kekuasaan kerajaan. Pada saat itulah terjadi degradasi kepemilikan naskah-naskah terjadi.

Jati diri bahari Indonesia dalam pernaskahan nusantara

Para keturunan bangsawan berangsur-angsur kehilangan kekuasaan, mulai dibukanya birokrasi kolonial memberikan kesempatan pada orang-orang yang berpendidikan menduduki jabatan pemerintahan, yang berakibat naskah-naskah berpindah tangan.

Orang-orang biasa dan bangsawan rendahan berebut untuk menjadi penyelamat benda-benda  pustaka dari para bangsawan istana. Naskah yang menjadi pustaka berubah fungsinya menjadi benda pusaka yang wujudnya sebagai warisan.

Sejak saat itulah (abad 20an) naskah-naskah tersebut tidak lagi dibaca karena degradasi kepemilikannya. Naskah-naskah tersebut tersimpan dan terbungkus rapi, dan akan dikeluarkan sebagai properti benda keramat yang disucikan. Bukan lagi isinya yang penting tapi wujudnya yang disakralkan.

Upaya pelestarian naskah oleh negara

Sangat disayangkan apabila naskah-naskah yang seharusnya dapat dipelajari dan disebarkan kepada generasi penerus hanya menjadi benda pajangan belaka. Itulah sebabnya menjadi tugas pemerintah dan negara untuk melestarikan naskah-naskah tersebut.

  1. Perlindungan. Sebagai rekaman buah pikiran masa lampau, naskah-naskah tulis tersebut harus dilindungi keberadaannya, yaitu dengan melakukan tindakan perawatan atas naskah baik yang disimpan di tangan pribadi maupun yang tersimpan di berbagai perpustakaan. Untuk naskah yang berada di tangan pribadi, pihak pemerintah dapat melakukan negosiasi kepada pemiliknya agar mau menyerahkan naskah tersebut kepada pemerintah atau pemerintah membelinya  agar dapat melindungi naskah tersebut dari kemusnahan.
  2. Pengembangan. Setelah naskah yang berhasil diselamatkan, diharapkan untuk segera dilakukan pengembangan baik berupa upaya pendiskripsian naskah dan pemotretan/perekaman naskah dalam bentuk micro film, micro reader ataupun dalam bentuk media digital lainnya.
  3. Pemanfaatan. Yaitu kegiatan yang terfokus pada isi/kandungan naskah yang perlu diinformasikan, ditransformasikan, disebarluaskan, di kaji untuk kepentingan dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai khasanah kepustakaan.
  4. Pembinaan.  Memberdayakan naskah sebagai sumber kreativitas dan mengaktualisasikan kandungan naskah dalam kehidupan sehari-hari.

Mari kita kembalikan naskah bahari kita sebagai pustaka bangsa dan bukan pusaka.

“Hanya bangsa yang dapat memetik pelajaran dari masa silam dan dapat mempergunakan pengalaman-pengalamannya dalam menghadapi masa depan, dapatlah bangsa itu menjadi bangsa yang besar.”

Jati diri bahari Indonesia dalam pernaskahan nusantara

Jakarta, 30 September 2018

HQ

 

44 Replies to “Jati Diri Bahari Indonesia dalam Pernaskahan Nusantara dari Masa ke Masa”

  1. Anakku sekarang sedang skripsi, ngambil jurusan sejarah. Katanya, bikin skripsi jurusan nya susah karena pembimbing semua guru besar. Penulisannya mesti betul2 valid, nggak bisa direka semaunya. Sementara buku penunjang nggak komplit, mesti mencari sampai ke perpus UI segala.

    Jadi pernaskahan ini penting mengingat kalo sudah bentuk buku, bisa digunakan mahasiswa yang butuh data utk penelitian nya.

  2. Bagaimanapun juga naskah masa lalu menjadi saksi sejarah pergerakan bangsa Indonesia dan buah ide pemikiran para cendekia masa itu. Keren mba, jadi pengen lihat kumpulan naskah yang disimpan ituu

  3. Naskah nusantara kita sebenarnya banyak banget ya, secara nenek moyang kita dulunya adalah kerajaan kerajaan besar berbudaya tinggi, pasti peninggalan Literasi nya juga banyak.

  4. Saking sudah langkanya ya, Mbak, yang dulu jadi bahan pustaka sekarang jadi benda pusaka. Padahal isinya bisa buat pelajaran bagi generasi penerus ya..
    Semoga ke depannya nasib naskah-naskah Nusantara bisa lebih baik untuk kemajuan bangsa.

  5. Setuju banget sama ini:

    “… “Hanya bangsa yang dapat memetik pelajaran dari masa silam dan dapat mempergunakan pengalaman-pengalamannya dalam menghadapi masa depan, dapatlah bangsa itu menjadi bangsa yang besar.”

    Sudah seharusnya kita harus memetik pelajaran dari masa silam.

  6. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah. Tradisi menulis sejak jaman dahulu ini sangat bermanfaat ya untuk generasi sekarang. Oleh karena itu penting banget untuk diselamatkan dan ditransfer bentuknya ke rekam digital sesegera mungkin. Isinya sangat berharga untuk pengetahuan bersama.

  7. Keren acaranya, Mbak.

    Saya masih ingat dulu nenek dan bapak saya berkomunikasi dengan huruf Lontarak dalam Bahasa Bugis. Nenek saya seingat saya tidak bisa baca-tulis huruf yang kita pakai sekarang, bisanya hanya huruf Lontarak.

    Harapan saya, naskah-naskah kuno ada yang bisa menuliskannya secara populer yang mudah kita mengerti dan mudah pula diakses oleh siapa saja supaya budaya tulis suku Bugis dan Makassar bisa makin luas dikenal orang.

  8. kalo inget pelajaran sejarah waktu sekolah, banyak banget ya naskah negara kita itu. Terus banyak juga katanya naskah negara yang dibawa ke Belanda, yang bahkan ada di museum di Belanda. Semoga naskah2 negaa kita bisa kita miliki sendiri dan semoga naskah itu bisa aman dan terawat. Supaya bisa diketahui anak cucu kita di masa yang akan datang.

  9. memang penting melindungi naskah2 kuno itu ya mbak, supaya anak cucu kita tahu tentang sejarah. Sebaiknya emang kyk dibuat kopiannya gtu, jd kalau aa apa2 (kyk misalya dulu kebakaran dll) msh bisa diselamatkan jejaknya TFS

  10. Indonesia negara kepulauan dan bahari tapi banyak masyarakatnya malah gak mengenal laut 🙂
    Nah harusnya dari naskah kaya gitu bisa dipelajari oleh murid-murid sekolah juga ya untuk mengenal sejarah

  11. How lucky you are, bisa ikut dalam seminar seperti ini. Ilmunya pasti banyak yang bisa diserap dari orang-orang hebat yang hadir di sana. Bangga sama Indonesia.

  12. Salam kenal Mbak dan titip salam juga sama bapak Dr. Mukhlis PaEni, M.Pd.
    Saya pernah mengajar Bahasa Daerah Makassar walaupun terpaksa (tidak ada guru lain hehehe) Duh luar biasa susahnya, padahal saya ngerti tahu dan mengerti bahasa Itu. Mungkin karena kurangnya referensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *